29 5 / 2012

“sri gunung”

suatu saat aku tengah memandang gunung, yang amat elok di kejauhan. kuberanikan diri mendekat, dan kutemui gunung itu terjal berbatu dalam jangkauan. puncaknya, bagaimanapun indahnya, harus didaki untuk mencapainya. maka akupun mendaki. menaiki tanjakan terjal, menuruni turunan curam. tidak mudah, tapi puncak yang indah itu sangat menggoda. lalu ku teruskan jalanku. terjatuh, tergores, terpeleset… tak pernah menyangka akan sesulit ini sebelumnya. lalu aku terjatuh lagi, tergores lagi, terpeleset lagi…

aku diam sejenak, berpikir apakah baiknya aku berhenti saja, pulang saja? mungkinkah ini pertanda Tuhan agar aku tak meneruskan jalan, ataukah ini ujian untuk memetik buah perjuangan? lalu aku menengok ke belakang, rupanya aku telah jauh berjalan. sayang jika aku berhenti setelah sejauh ini. lalu aku menatap ke puncak yang ternyata sama jauhnya. apa aku berhenti saja, mumpung belum lebih jauh lagi? aku terjebak di antara henti yang kesekian kalinya. terdiam, aku takut puncak itu hanya fatamorgana…

Jakarta, 29 Mei 2012

24 5 / 2012

Permalink 4,411 notes

23 5 / 2012

Sukhoi dan Media Massa (re-posting)

This writing is a re-posting. I got an email from a friend who share this thoughts and I thought it’s worth to share :)
(the write is Rahkman Ardi, lulusan fakultas psikologi Ural State Univ. Ekaterinburg, Russia)


Sukhoi dan Media Massa
Akhir-akhir ini headline dan media massa nasional disibukkan dengan kejadian yang menimpa pesawat Sukhoi Superjet 100. Beberapa stasiun televisi bahkan menayangkan Breaking News nonstop selama beberapa hari. Tak ada kecelakaan yang tidak tragis. Tidak ada maut yang tidak mengundang air mata. Kehilangan nyawa dari keluarga korban sebagaimanapun bentuk kematiannya tak akan pernah dapat diganti nilainya dengan uang atau apapun.
 
Namun dinamika pemberitaan media massa nasional nampaknya juga cukup menarik dicermati.Angle beberapa media massa sering kali terlampau menyudutkan negara asal pesawat. Efeknya kemudian bukan pada negara asal produsen pesawatnya saja, namun bagi sebagian orang awam adalah judge dan stereotype yang berlebihan terhadap orang-orang negeri beruang merah tersebut. Apalagi sejarah yang dibuat oleh penguasa Indonesia di era tertentu mempunyai catatan kelabu dengan negara yang mayoritas didominasi Ras Slavic tersebut. Jadilah kemudian berita semakin buruk dan dramatis. Penelitian yang dilakukan oleh Chip Heath di Universitas Chicago pada tahun 1996 menunjukkan hal yang menarik. Informasi ekstrem akan diserap tergantung pada preferensi yang kongruen terhadap value seseorang terhadap obyek tersebut, sehingga jika valuekita terhadap sesuatu sudah terlanjur buruk, maka kita akan cenderung percaya terhadap segala informasi buruk terhadap obyek tersebut. Apapun stereotype sebagian masyarakat kita terhadap Orang Rusia kurang lebih masih sama dengan stigma yang dilekatkan oleh penguasa di jaman orde baru.
 
Apa yang saya tulis tak terkait dengan nasionalisme dan bisnis pesawat. Saya hanya tertarik untuk mencermati psikologi masyarakat dan kesimpangsiuran berita. Pemberitaan atas apa yang terjadi pada kecelakaan pesawat tersebut bisa dibilang membingungkan dan bertendensi menyudutkan mulai dari : 1) Pemberitaan pilot yang ditemukan bertubuh utuh dan berparasut yang arahnya kemudian adalah dugaan pilot melompat tak bertanggung jawab meninggalkan penumpang, 2) pesawat rusia yang berteknologi jadul karena ELT tak bisa dilacak dan masih menggunakan frekuensi lama, 3) MCS rusia yang bemental tape, merepotkan, dan seenaknya, 4)  sampai soal blackbox yang diusulkan untuk dibuka di Rusia yang heboh diberitakan.
 
Soal Black Box, tak ada yang pernah tahu apa yang terjadi pada saat tim Rusia menawarkan bantuan untuk membuka Black Box kepada Indonesia. Tawaran ditolak oleh pihak Indonesia. Toh pihak Rusia pun tak memaksa dan menerima,  tapi keesokan harinya media massa Indonesia menjadi ramai dengan headline tersebut. Beberapa judul Koran menuliskan “Indonesia menolak tegas Blackbox dibuka di Rusia”. Judul menunjukkan heroisme. Orang kemudian digiring pada opini dan asumsi bahwa akan ada manipulasi data dari pihak Rusia jika dibawa ke tempat pembuat Sukhoi ini. Orang kemudian lupa Black box pesawat Boeing buatan Amerika ketika terjadi tragedi Adam Air yang jatuh 1 januari 2007 itu juga dibuka di Amerika. Siapa yang tahu jika Rusia bisa saja menawarkan pembukaan Blackbox tersebut sebatas pada loncatan ide atau obrolan di tengah makan malam saja. Disinilah pikiran saya jadi meloncat dengan apa yang dikatakan oleh Jean Baudrillard. Dia pernah dengan ekstrem mengatakan, “bisa jadi perang Iraq tahun 1991 hanyalah realitas yang dilebih-lebihkan, dia hanya terjadi di satu tempat dan tak terjadi di semua tempat di Iraq, namun media mengambil angle yang seolah-olah hal tersebut adalah perang heroik Amerika yang terjadi di seluruh Iraq”.
 
Saya jadi teringat lagi berita beberapa tahun yang lalu. Adakah dulu Koran nasional juga berkomentar sama pedasnya soal kecelakaan Airbus A330 Air France pada tahun 2009 atau soal seringnya kecelakaan pada pesawat Boeing 737-200? Tentu tidak, karena magnitude dan kepentingannya tak sampai terasa disini. Saya juga tiba-tiba teringat soal berita tahun 2002 soal meninggalnya pekerja AS di Freeport. Agen-agen amerika sampai melakukan investigasi di Indonesia. Adakah waktu itu TNI dan Koran nasional bersuara lantang layaknya sekarang? Tentu tidak, karena Indonesia secara politis memang tak berdaya dengan negara adidaya tersebut. Ketergantungan Indonesia secara politis terhadap Amerika jauh lebih besar dibandingkan ketergantungan Indonesia terhadap Rusia. Thus ini lebih dari urusan interest dan angle yang dipilih oleh media.
 
Sthriving for Superiority
Apapun, berita sinisme dan ejekan yang saat ini gencar plus sebagian masyarakat kita yang ikutan sinis adalah dikarenakan sthriving for superiority. Baik Indonesia dan Rusia mempunyai kecenderungan ingin menunjukkan diri sebagai bangsa yang tak kalah dengan bangsa lain. Rusia ingin memperlihatkan bahwa dirinya tak kalah dengan Eropa Barat dan Amerika. Jatuhnya pesawat yang menjadi simbol kebanggaan dan kebangkitan Bangsa Slavic pasca jatuhnya USSR ini otomatis membuat mereka gelagapan, kelimpungan, dan tak ingin kehilangan muka.
 
Indonesia sendiri juga mengalami hal yang sama. Ini adalah saat Indonesia menunjukkan superioritasnya terhadap dominasi Barat. Kesempatan tersebut hanya ada jika kita sendiri tak punya banyak ketergantungan terhadap bangsa tersebut. Rusia adalah jawaban yang tepat di saat sekarang. Satu sisi, bangsa kita seringkali tak punya posisi tawar dalam berdiplomasi ketika dihadapkan oleh kepentingan barat. Diplomasi luar negeri kita seringkali terlihat inferior. Sebenarnya, seperti kata Adler, sense of inferiority itulah yang kemudian menjadi pendorong bagi kemajuan, namun  dalam konteks dan kadar pengalaman tertentu inferiority justru dapat menyebabkan inferiority complex atau superiority complex.
 
Bisa jadi hal tersebut terjadi pada bangsa kita. Kita memang patut berbangga dan memberi apresiasi melihat Basarnas mampu untuk menjelajahi Gunung Salak dan kompak dalam menginvestigasi korban. Rusia yang kalang kabut untuk segera menginvestigasi produk yang dianggap kebangkitan industri dirgantaranya dan yang juga warga negaranya ikut menjadi korban, malah justru membuat kita muak dan dianggap sebagai pengganggu. Namun bisa jadi ini bukan soal mereka mengganggu atau tidak. Ini adalah masalah sthriving for superiority yang diperebutkan oleh kedua Negara.
Prestasi mengevakuasi korban dengan tangan kita sendiri tentunya akan lebih membanggakan, dibandingkan prestasi yang sudah dicampuri oleh kelompok lain. Menjadi juara satu sendirian, seringkali lebih membanggakan dibandingkan juara satu rame-rame. Padahal ini bukan kompetisi, ini adalah misi evakuasi. Oleh karenanya, Koran nasional begitu heboh menyindir 2 tim SAR Rusia yang kelelahan dan balik kandang ketika akan menjelajah Gunung Salak. Padahal kenyataannya yang pulang bukanlah anggota SAR/MCS Russia, namun adalah wartawan dan seorang ahli investigasi dari fabrikan Sukhoi. Ejekan muncul disana-sini, tak peduli bahwa mereka sebenarnya juga berhak untuk terlibat. Sense of humanity kadang seringkali dilupakan bahkan dalam misi kemanusiaan, justru yang lebih terasa disini adalah tarik-menarik kepentingan untuk urusan harga diri dan menunjukkan siapa yang paling hebat.
 
Good news doesn’t sell newspapers
Lepas dari urusan harga diri, tiba-tiba saya jadi teringat penelitian yang dilakukan oleh The Pew Research Center for the People & the Press di Amerika Serikat tentang pemberitaan Media Massa dari tahun 1985 hingga tahun 2011. Disana ditemukan bahwa 66 persen responden menyadari bahwa berita yang ada dalam media massa di amerika serikat seringkali tidak akurat. 77 persen juga mengatakan berita seringkali berat sebelah.
 
Konon memang berita buruk lebih laku dijual. Good news doesn’t sell newspapers. Dan apapun inilah konsekuensi dari kapitalisme dan kebebasan media. Bisnis media mau tidak mau menyebabkan kita menjadi korban eksploitasi tragedi. Benar atau tidaknya informasi bukan jadi yang utama. Yang terpenting adalah profit dari berita bombastis dan rating media yang naik. Lain hal, kita tak pernah tahu media itu berpihak pada kepentingan yang mana. Perilaku pembaca bisa jadi tak salah, karena mereka hanyalah hasil giringan opini dari media massa. Karakteristik masyarakat sedikit banyak media yang kurang lebih ikut berperan.
 
Masyarakat terlampau banyak dicekoki dengan berita prematur. Akhirnya kemudian lahirlah masyarakat yang penuh prejudiced, gemar mengutuk-ngutuk, dan tak utuh dalam membuat sebuah kesimpulan. Media juga terlalu menghadirkan efek dramatis dan hiperbolik dalam menginformasikan berita. Responden yang jelas-jelas sudah sedih, masih dipaksa lagi untuk bercerita tentang perasaannya. Tragedi yang memang pada hakikatnya pilu masih ditambah lagi ketragisannya dengan efek-efek gambar dan musik montase yang diputar hampir 24 jam. Tangisan yang ditampilkan itu bukan lagi untuk menumbuhkan empati tapi soal eksploitasi. Masyarakat dipaksa tenggelam dalam dunia simulacrum yang dibuat oleh media. Realitas asli kemudian dibuat sedemikian rupa hingga dramatis, dengan tangisan, slow motion dan gambar montase. Benar ini dapat menumbuhkan kesadaran bagi yang melihatnya, tapi dalam kadar tertentu ini justru mengakibatkan rendahnya resiliensi keluarga dalam menghadapi tragika. Mereka yang seharusnya mempunyai daya tahan psikologi yang kuat, bisa jadi jadi justru menjadi lemah dan panik gara-gara efek pemberitaan media yang terlalu berlebihan.
 
Yang paling ironis kemudian beberapa orang disekitar saya mulai terpancing dan memunculkan sentimen lama yang tak ada hubungannya dengan urusan pesawat. Mereka mengutuk-ngutuk,“dasar komunis ndak tanggung jawab!”“Dasar Rusia yang seenaknya keras kepala!”. Walau saya paham Sukhoi itu memang satu dari kebanggaan bangsa Slavic, tapi saya sendiri juga tak pernah ada urusan dengan bisnis Sukhoi. Hanya entahlah tiba-tiba saja saya jadi ingat dengan teman-teman Slavic saya yang pernah menolong saya di Rusia. Ingat dosen saya disana yang begitu baik dan suportif sampai-sampai pernah memberikan sekarung kentang buat saya. Tak tega rasanya jika kemudian main hantam kromo begitu saja.
 
Saya pernah jadi korban pengeroyokan dengan alasan rasisme di Rusia. Saya juga pernah mengalami hidup yang berat di Rusia, tapi itu semua tak membuat saya membenci orang Rusia. Rasisme itu bukan hanya ada disana. Rasisme ada dimana-mana termasuk di Indonesia. Banyak diantara mereka yang jauh dari apa yang dikatakan sebagai setan komunis atau orang yang tidak bertanggung jawab. Ini bukan masalah ras atau ideologi. Lepas dari apapun kebangsaannya mereka adalah manusia yang sama seperti kita. Mereka bukan setan dan tak semuanya arogan.
 
Sedikit meloncat, saya juga kemudian jadi berpikir kenapa juga media tak pernah membuat montase yang sama dramatisnya dengan intensitas siaran yang sama sebagaimana pemberitaan sukhoi terkait dengan penderita gizi buruk di Indonesia yang jumlahnya mencapai 4 persen dari 23 juta balita Indonesia atau sekitar 900 ribu anak. Tidak ada asuransi sebesar 50.000 USD buat mereka lho, juga tidak ada asuransi dari pemerintah sebesar 50 juta per kepala.
Sekali lagi tulisan ini tak ada urusan dengan bisnis Sukhoi. Bisnis biarlah diselesaikan pada pihak yang berbisnis. Terakhir semoga hasil investigasi dapat memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya kepada semua pihak.

17 5 / 2012

"hati terkadang anomali. ketika diikat, belahannya menjauh. ketika dilepas, belahannya menyatu. seperti puzzle yang saling bertaut…"

14 5 / 2012

Permalink 3,866 notes

12 5 / 2012

What I learned at office (1)

So yesterday I learned two new things at work; how to make logo instantly and how to convert ppt to video. Maybe some of you have been familiar with those things, but it’s brand new for me.

I was tasked to make a simple logo for our next agenda, some kind of gathering. The problem is… I have no skill in designing, Photoshop-ing, corel draw-ing, any kind of them. Well, personally, I really want to learn, but just imagining how those things require detail and patience… hmmm well probably next time :p

So I went googling and fortunately found some online logo generator. TADAAA! Thought it’s helpful at first, but kinda regret later. It did generate logo instantly, but the result kinda not suits my expectation, so much blink here and there :( if you are an ex friendster user, you know what it looks like.

The next morning, I tried to googling again, because I should finish that task immediately. Longlive google! I found one good site. Here »> https://www.logaster.com/ So in short, this site offers you, who is not familiar in using design software like Photoshop, hundreds of logo which you can choose and edit (its color and position). What make this site better than the previous logo generator’s sites is, the logo it creates looks more professional, and less blinks. After you choose, you can directly download the logo. There will be some options, if you choose accept&download, you will be directed to another page which offer you a pro-service (in short, you need to pay). But if you choose the download (only), you can download the logo you saved for free (in small pixel). But that’s fine (for me). This site had been so helpful for me anyway.

Second thing I learned today is to convert ppt to video. Once again, I asked Mr. Google first and it gave me like thousands answers. Most of them tell me to upload my ppt to youtube, then download it again. But unfortunately, with my account signing in office account, I can not log in to my yotube account. So once again googling, there’s another way instead of uploading it to youtube. There’s an online software (?) named authorstream (you can click here to check), where you can upload your presentation and that site will then convert your ppt into video so that you can download it later. Basically the same process with youtube. What makes it better than offline software that it doesn’t put any advertisement in the first opening of your presentation video.

That’s all what I learned that day (despite the fact I worked overtime because lots of things to do) and what I want to share with you. Hopefully it gives advantage, hehe.

xoxo

10 5 / 2012

5.15 at the office

Dear you,

it was 5.15 in the afternoon. I was washing my face and ready to pray when suddenly a thought (a memory?) came to my mind. It’s been hundreds days we’ve been spending together. All the tears, all the laughter. Then I remember this, Dear, when you get mad and highly tempered, you’re like a man. when you spreading me with love, you’re like a man. But your mischievous smile, you when you’re sulking, cuddling, being spoiled, just reminds me of a little boy that made me fell in love with his pure eyes and his wide smile… the boy is little you. You’ll always be that little boy in my eyes, no matter how big you are now (and in the future).

10 5 / 2012

forgotten million little things…

Banyak hal yang mungkin gw, sebagai manusia biasa, lupa untuk bersyukur. Merasai, memikirkan, hal-hal yang terasa seperti beban, menguras energi, otak, dan hati, hingga luput menyadari bahwa banyak dalam hidup ini yang terjadi, bukan hanya hal-hal yang terasa membebani. Kadang gw terlalu sibuk memperhatikan “the big picture,” hingga tidak memperhatikan titik-titik kecil yang merangkai gambar itu. Titik-titik kecil yang tidak hanya hitam, putih, dan abu-abu melulu. There it goes blue, yellow, green, purple, and sometimes orange; colors of happiness.

Setahun ini gw terlalu sibuk ber-blablabla soal skripsi. Bahwa skripsi itu untuk dikerjakan, bukan hanya direnungkan, SANGAT benar adanya. Terima kasih buat Bapak Rektor yang sempat men-tweet quote tersebut dan kebetulan sekali pas gw buka timeline. Gw tahu Pak Rektor tidak men-tweet kalimat tersebut especially buat gw. But seriously, ibarat panah, kalimat tersebut tepat sasaran, pas mengena di gw. Kalo kata anak gaul, it’s a JLEB moment. Gw terlalu sibuk melihat gambar besarnya, that it is a SKRIPSHIT. Gw sibuk meraba-raba, bahkan enggan menyentuh karena stereotype “SHIT” itu sudah terlanjur tertempel. Padahal, seandainya gw mau lebih open-minded, I will just do it. Menyesal terlambat, dan tidak perlu. Time’s ticking, almost to the finish line. There’s no way I give up. Just do it and believe in my self. Bagaimanapun hasilnya. There’s no one to blame, but me. Dan gara-gara ini pula gw lupa bersyukur, bahwa tidak semua orang punya kesempatan seperti gw; ketemu skripsi dan pada akhirnya bisa jadi sarjana. It’s a long road to get here, ngga mungkin gw sia-siain gitu aja…

Dan setahun ini pula gw sibuk complaining this and that, selalu merasa kurang… Sementara hidup gw berlimpah kasih sayang. Gw masih punya Bapak dan Ibu, yang selalu ada buat gw dari gw kecil sampe gw dewasa. Gw masih punya kesempatan memeluk raga mereka hingga sekarang. Adakah lagi yg gw keluhkan dan lupa untuk syukuri? Bahwa setiap kesulitan yang mungkin saat ini gw rasa, tidak lain cobaan Allah, yang Allah sendiri sudah janji tidak akan memberikannya melampaui batas kemampuan gw (kami) yang manusia biasa ini. Gw yakin cobaan ini bukan tidak berujung. Pasti ada pintu di ujung sana. Yang pasti untuk mencapainya, gw musti berjalan, kalau perlu berlari, bukan diam saja. Adik-adik gw… yang seiring perjalanan gw mereka pun tumbuh, tanpa gw sadari mereka yang dulu hanya manusia mungil, sekarang sudah hampir sebesar gw. Adik-adik yang tidak pernah menuntut banyak, mengerti, dan menghormati gw, merindukan gw saat gw jauh. Adakah alasan untuk tidak bersyukur? Bahkan perjalanan gw selalu teriringi doa dari Mbah Uti yang semakin senja, semoga Allah melimpahkan kesehatan, umur panjang nan berkah, dan kebahagiaan buatnya…

Tidak ada putusnya rasanya kalau menghitung keluhan-keluhan gw di sepanjang satu tahun belakangan. Gw terlalu sibuk mengingat dan merutuki yang tidak baik, sampai luput melihat yang baik-baik. Gw terlalu sibuk menghitung hal-hal kecil yang mengesalkan, hingga luput mengingat yang menyenangkan. Gw terlalu sibuk marah, hingga luput tersenyum. Gw terlalu sibuk memikirkan diri sendiri, hingga luput memikirkan orang-orang di sekitar gw. Kamu, ya kamu, yang selalu ada di sampingku, melakukan apapun buat aku, melimpahiku sayang di setiap harinya, berbagi tangis dan tawa, yang kadang aku sakiti hatinya, yang aku selalu rindukan kala tidak ada, tapi selalu aku ajak berantem kalau ada, selain terima kasih karena telah menyayangi aku dengan sebaik-baiknya, sepenuh-penuhnya, sebagai manusia lain yang tidak berbagi darah denganku, sudah seharusnya aku meminta maaf karena sering lupa mensyukuri keberadaanmu sebagai rencana Allah yang, insya Allah, baik di hidupku…

Juga kalian semua, yang selalu dekat dengan hatiku, yang namanya selalu aku ingat ketika menyebutkan teman dan sahabat. Yang terpisah jarak berkilometer jauhnya, yang sejangkauan, yang pernah ada dan akan selalu ada. You are not a one big thing, but million little things, yang merangkai hidup gw menjadi satu gambar indah. Thank you all and I really am sorry jika kalian juga adalah hal-hal yang luput dari rasa syukurku setahun belakangan ini…

09 5 / 2012

Gomawo, Oppa.

It was Monday morning and raining so heavily. Melihat jam dinding dan jarum-jarumnya menyimpulkan pukul 08.30. I couldn’t sit still. It was my second week working as an intern, I did not want to ruin it :s. Memandangi langit gelap yg menyiramkan air super deras, aku cuma bisa manyun.

“Gimana?,” tanyanya, aku berpaling ke arahnya dan mengangkat bahu, “mau berangkat aja pakai jas hujan?”

Mau bagaimana lagi, aku mengangguk pasrah karena memang itu satu-satunya alternatif. Well I could just call taxi, but you know it will cost lots of money if you combine it with Jakarta’s traffic and heavy rain.

He got 2 pieces raincoat, one for him one for me. Dipakainya jas hujan kelelawar warna biru. Sementara buatku dipakaikan two pieces raincoat, yang ada celana dan jasnya. I felt like a little kid being worn a costume. Dengan sabarnya dia memakaikanku “kostum” hujan itu (dan aku dengan amat sangat seperti anak kecilnya pasrah dipakaikan celana hujan, jas, kemudian helm).

So there we go, riding the motorcycle, menantang hujan. Beruntung Mampang - Senopati tidak melewati jalur protokol yang macetnya minta ampun. Sepanjang 30 menit perjalanan, kepadatan baru (dan hanya) di Tendean, selebihnya lancarrr. Dan sepanjang perjalanan itu pula, I thought of something, and couldn’t stop thanking. This guy in front of me, who rode the motorcycle and I held on his waist, was such a graceful gift God has given me.

I mean… this is the first time in my life finding such a guy… maksud aku dia mau gitu, pagi-pagi hujan-hujan (bukan sekedar gerimis, tapi HUJAN yang bener-bener hujan), nganter aku ke kantor, basah kuyup, dingin… Nggak cuma itu, malamnya pun dia masih mau jemput aku pulang kerja, kadang mesti nungguin dulu agak lama.

On the other morning, dia bikinin aku sarapan, knowing me never spend a time to have one. And this morning, he did another sweet thing. I just arrived at office, sit, and open my laptop when I found this »>

Padahal malamnya kita berdua habis jengkel-jengkelan. Tapi bisa gitu dia kepikiran bikin ini :’/ super terharu.

Instead of saying “I love you”, because it sounds so massively said, I want to say thank you my dear boyfriend for the loves you show (and do to me) every single day. terima kasih karena kamu bikin aku merasa disayang, and it feels soooo beautiful. Wish I could do in return, loving you sincerely like you always do to me :’) Gomawo, oppa.

24 4 / 2012

my thoughts are like unbreakable thread and my life is such a mess :((

my thoughts are like unbreakable thread and my life is such a mess :((